MENGENAL INDIKATOR ALAMI DI SEKITAR KITA

Print
Parent Category: ARTIKEL Category: Edukasi
Last Updated on Wednesday, 30 January 2019 Published Date Written by Agung Suprihatin

MENGENAL INDIKATOR ALAMI DI SEKITAR KITA
  Oleh: Agung Suprihatin
Widyaiswara Dept. Pendidikan Lingkungan Hidup PPPPTK BOE Malang

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Zat kimia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Masing-masing zat kimia memiliki sifat yang berbeda-beda. Namun demikian diantara perbedaan yang ada, zat-zat kimia tadi dapat dikelompokkan menjadi golongan tertentu berdasarkan kemiripan sifat yang dimilikinya. Misalnya kita mengenal ada zat yang bersifat asam, netral, dan ada pula yang bersifat basa.

 

Penggolongan zat menjadi asam, netral, dan basa ini didasarkan pada kemampuannyamelepaskan ion hidrogen (H+) ataupun hidroksida (OH-) di dalam air. Jadi ion H+ adalah pembawa sifat asam dan ion OH- adalah pembawa sifat basa.  Secara umum zat dikatakan asam jika konsentrasi ion H+ dalam air lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi ion OH-, dan sebaliknya suatu zat dikatakan basa jika konsentrasi ion H+ lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi ion OH-. Dan zat dikatakan bersifat netral jika konsentrasi ion H+ sama dengan konsentrasi ion OH-. Zat-zat yang bersifat asam yang lekat dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain cuka masak, air aki, asam sitrat, dan vitamin C. Bahan atau zat yang bersifat basa antara lain abu, sabun mandi, dan deterjen.

Untuk mendeteksi zat-zat yang bersifat asam atau basa tersebut dibutuhkan suatu zat yang dikenal dengan istilah indikator. Indikator tersebut dapat diperoleh di toko-toko kimia. Namun tentunya harus diperhitungkan biayanya. Untuk mengatasi kendala biaya tersebut, sebenarnya Sang Pencipta telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator dan dengan mudah diperoleh di sekitar kita.

Indikator alami dapat dibuat daribagian tanaman yang berwarna baik itu bagian batang, daun maupun bunga. Tanaman tersebut misalnya kelopak bunga sepatu, daun kubis ungu, daun bayam merah, daun bangka-bangkaan, kayu secang, dan kunyit. Sebenarnya hampir semua tumbuhan berwarna dapat dipakai sebagai indikator asam basa, tetapi terkadang perubahan warnanya tidak jelas perbedaannya. Oleh karena itu hanya beberapa saja yang sering dipakai karena menunjukkan perbedaan warna yang jelas saat berada di lingkungan asam dan saat berada di lingkungan basa.

 

PEMBAHASAN

Tanaman yang sering dan dapat dipakai sebagai indikator alami antara lain daun kubis ungu yang memberikan warna merah dan hijau, daun bayam merah yang memberikan warna merah dan kuning, kayu secang yang memberikan warna kuning dan merah, bangka-bangkaan atau nanas kerang yang memberikan warna merah muda (pink) dan hijau.

Berikut adalah contoh beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator asam dan basa.
Daun kubis ungu (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang tidak banyak dikonsumsi, karena tidak semua orang menyukai rasanya yang sedikit berbeda dengan daun kubis biasa. Orang yang cukup peka menyatakan kubis ungu ini rasanya agak pahit. Daun kubis ungu bila dilarutkan dalam air panas akan mengeluarkan zat kimia yang berwarna biru atau biru keunguan bila terlalu pekat. Zat kimia inilah yang bila bercampur dengan asam akan berubah warna menjadi merah dan bila bercampur dengan basa berubah menjadi hijau. Oleh karena ada perbedaan warna yang jelas dalam suasana asam dan basa, maka ia dapat digunakan sebagai indikator alami

Daun rhoeo discolor  atau nanas kerang merupakan tanaman herba yang kuat dengan batang tegak, daun yang menghadap ke bawah berwarna ungu tua, sedangkan yang menghadap ke atas berwarna hijau, dengan posisi antar daun saling menelungkup melingkari batangnya. Ada juga yang mengenal tanaman ini dengan sebutan nanas-nanasan. Cara memanfaatkannya sebagai indikator adalah dengan mengiris-iris daun bangka-bangkaan ini dan dikeringkan. Kemudian irisan daun yang sudah kering ini dilarutkan dalam alkohol, maka akan diperoleh larutan dengan warna kuning kemerahan. Dalam suasana asam warnanya berubah menjadi merah muda (pink) dan dalam suasana basa berubah menjadi hijau. Dengan demikian larutan daun rhoeo discolor atau bangka-bangkaan juga dapat digunakan sebagai indikator alami.

Kayu secang (Caesalpinia sappan) disebut juga kayu sapang, kebanyakan digunakan sebagai bahan pengecat. Saat ini kayu secang banyak diolah sebagai minuman yang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit (Hembing, dkk., 1993 : 120). Seperti halnya daun bangka-bangkaan, maka bila kayu secang diiris tipis-tipis dan dikeringkan (pengeringan biasanya dilakukan dalam oven), lalu dilarutkan dalam alkohol, akan diperoleh larutan berwarna merah orange. Dalam suasana asam akan berubah warna menjadi kuning, sedangkan dalam suasana basa berwarna merah. Dengan demikian larutan kayu secang ini juga dapat digunakan sebagai indikator alami.

Soka. Tumbuhan ini bernama latin Ixora Sp. Soka sebenarnya merupakan tanaman liar tipe perdu yang tumbuh di hutan. Tanaman ini termasuk dalam golongan kopi-kopian dan memiliki bunga berwarna cerah. Mulai dari merah menyala (scarlet), kuning, jingga, merah muda, bahkan putih. Bunganya mekar bergerombol. Setiap kuntumnya berukuran kecil dengan empat kelopak. Ketika mekar, bunga-bunga ini memberi semburat warna cerah, di antara hijau daunnya. Dengan penampilan bunganya yang memancar seperti kembang api dan hidup liar di hutan-hutan, orang-orang Eropa menjuluki tanaman ini dengan sebutan flame of the jungle atau api dari hutan. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan, jenis soka hibrida saat ini telah bermunculan dengan menghadirkan warna-warna bunga yang lebih beragam dan meriah. Saat ini soka telah menjadi tanaman hias di rumah-rumah karena penampilannya yang menarik. Sebagai indikator asam basa, yang dimanfaatkan dari tanaman ini adalah ekstrak dari bunganya. Dari larutan ekstrak yang berwarna coklat bening, akan berubah menjadi merah dalam suasana asam dan berwarna hijau pekat dalam suasana basa.

Bunga Sepatu atau Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu.Sebagai indikator asam basa, yang dimanfaatkan dari tanaman ini adalah ekstrak dari bunganya. Dari larutan ekstrak yang berwarna ungu, akan berubah menjadi merah dalam suasana asam dan berwarna hijau dalam suasana basa.

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura). Sebagai indikator asam basa, yang dimanfaatkan dari tanaman kunyit adalah ekstrak dari rimpangnya. Dari larutan ekstrak yang berwarna kuning pekat (mendekate oranye), akan berubah menjadi kuning jernih dalam suasana asam dan berwarna merah bata dalam suasana basa.

 

KESIMPULAN

Dengan memperhatikan kelimpahan bahan alami yang ada di sekitar kita, tentunya kita dapat mendeteksi berbagai bahan yang bersifat asam ataupun basa yang ada dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus mengandalkan indikator sintetis yang harganya cukup mahal dan hanya dijual di toko kimia yang mungkin tidak terdapat seluruh pelosok tanah air kita. Seperti telah dikemukakan pada pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kubis ungu, nanas kerang, kayu secang, bunga soka, bunga sepatu dan kunyit merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator asam basa secara alami karena dapat menunjukkan perbedaan warna yang jelas pada suasana asam dan basa.

 

REFERENSI:

  1. Aneka Buah Segar untuk Diet Sehat, akses online,  http://exclusiveabrar.blogspot.com/2010/04/aneka-buah-segar-untuk-diet-sehat.html
  2. Mencegah Kanker dengan Kubis Ungu, akses online, intisari-online.com/read/mencegah-kanker-dengan-kubis-ungu.
  3. Secang, akses online, sarisecang.blogspot.com/2012/09/secang.html.
  4. Bangka-bangkaan, Rhoeo discolor, akses online, www.staurtxchange.com/BangkaBangkaan.html.
  5. Pengembangan Prosedur Penentuan Kadar Asam Cuka Secara titrasi Asam-Basa dengan Berbagai Indikator Alami (sebagai Alternatif Praktikum Titrasi Asam-Basa di SMA), Das Salirawati, M.Si dan Regina Tutik Padmaningrum, M.Si, Jurdik Kimia FPMIPA-UNY, akses online, http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=indikator+kayu+secang&source=web&cd=3&ved=0CDcQFjAC&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2FMakalah%2520cuka_0.doc&ei=xk5aUdnTCszrrQfYwIGQCg&usg=AFQjCNF8Xr4fkfEihKorBQe-fHsdqCoRYA
  6. Budidaya, akses online, http://budidayaukm.blogspot.com/2011/07/bunga-soka.html.
  7. Kembang Sepatu, akses online, http://id.wikipedia.org/wiki/Kembang_sepatu.
  8. Kunyit, akses online, http://id.wikipedia.org/wiki/Kunyit.
  9. Sabun Anti Bakteri Berbahaya untuk Manusia dan Lingkungan, akses online, http://11021991.on.paseban.com/discussions/5593

 

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG